ANALISIS KETIMPANGAN SOSIAL DESA TEMPALING
Assalamualaikum wr. WB.
Halo teman teman kali ini kita akan mengulas materi sosiologi yaitu tentang ketimpangan sosial. ketimpangan sosial adalah keadaan dimana suatu akses dibatasi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Ketimpangan sosial banyak terjadi dimasyarakat Indonesia saat ini. Berikut adalah contoh kejadian ketimpangan sosial yang terjadi di desa Tempaling dengan didampingi guru mapel kita Bu Indarti tercinta.
Desa Tempaling adalah desa yang berada di Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Desa Tempaling adalah salah satu desa yang terdampak ketimpangan sosial. Kita mengambil sampel salah satu keluarga yaitu keluarga pak Suwaji. Pak Suwaji hidup berkeluarga dengan memiliki tiga orang anak.
A. Segi Pendidikan
Pak Suwaji adalah seorang tamatan SD. Dan istrinya tamatan SMA. Jika dilihat dari zamanya, tamatan SD sudah cukup baik karena dulu minim orang yang menempuh pendidikan. Itu karena zaman dahulu pendidikan sangat sulit dan membutuhkan banyak biaya. Hanya beberapa anak keluarga berkecukupan yang dapat menempuh pendidikan tinggi. Hal itu sebelum adanya pemerataan pendidikan seperti hari ini. Anak anak pak Suwaji sekarang dapat menempuh pendidikan yang layak hingga jenjang SMA.
B. Segi Pendapatan Dan Pekerjaan
Pak Suwaji awalnya adalah seorang petani dengan pendapatan yang tidak menentu. Ada kalanya panen dapat banyak namun ada kalanya juga hanya sedikit. Keadaan tersebut membuat pak Suwaji mencari pendapatan dengan cara yang lain yang dapat membantu perekonomianya. Ia pun melakukan usaha ternak hewan dan juga menjadi tukang kayu hingga saat ini. Desa Tempaling adalah desa dengan mayoritas pekerjaan warganya bertani. 30% lahan Desa Tempaling digunakan untuk kegiatan pertanian seperti padi, jagung dan tembakau. Namun seiring perubahan zaman banyak warga desa yang memilih beradu nasib merantau ke kota. Hal ini turut merubah pola kehidupan masyarakat desa Tempaling. Banyaknya tenaga kerja yang bertransmigrasi ke kota sehingga desa Tempaling kekurangan tenaga kerja untuk mengurus pertanian. Adapun beberapa warga desa Tempaling yang bekerja menjadi sopir. Hanya beberapa yang masih bertahan mengurus pertanian. Contohnya adalah Pak Suwaji yang masih bertani hingga sekarang.
C. PEMBANGUNAN DESA TEMPALING
Pemerintahan desa melakukan pembangunan fisik dan non fisik untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Jalan untuk kendaraan dibangun dengan layak untuk mengakses antar desa/wilayah lain. Adapun pembangunan tempat ibadah, serta sarana belajar anak sekolah dasar. Meskipun masih ada beberapa warga dengan tempat tinggal kurang layak, namun pemerintahan desa terus mengajukan melakukan program bantuan bedah rumah. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Tempaling. Namun, desa Tempaling belum memiliki sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya. Masyarakat biasa berobat atau melakukan cek kesehatan kepada beberapa warga yang berprofesi sebagai perawat di desa tersebut, atau juga pergi ke puskesmas kecamatan yang berada tidak jauh dari desa Tempaling.
D. STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT
Stratifikasi sosial masyarakat desa Tempaling tidak terlalu terlihat meskipun mungkin dapat dibagi menjadi tiga yaitu kelompok masyarakat mampu, menengah, dan kurang mampu. Masyarakat mampu didominasi oleh warga yang bekerja sebagai pemilik lahan pertanian, pegawai negri sipil dan juga pemilik ternak. Masyarakat menengah diisi dengan pedagang, wiraswasta dan perantau. Yang berada pada golongan terakhir atau kurang mampu diisi oleh warga sebagai buruh dan lansia yang tidak bekerja. Masyarakat mampu cenderung menduduki posisi penting dalam pengurusan desa seperti donatur dan pengusul kebijakan kebijakan. Sedangkan masyarakat menengah dan dibawahnya sebagai penerima kebijakan dan penerima bantuan. Hal ini berlangsung dan saling tarik menarik membangun pola interaksi masyarakat.
E. MOBILITAS SOSIAL MASYARAKAT
Masyarakat desa Tempaling memiliki perkembangan yang cukup signifikan dalam perekonomian dibanding dengan dulu. Hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti banyaknya perantau dan juga peluang kerja yang meningkat setelah banyak dibuka pabrik dikabupaten Rembang. Adapun pengaruhnya dalam mobilitas sosial warga desa, peningkatan kualitas sumber daya manusia dibanding zaman dulu. Hal itu juga dirasakan pak Suwaji yang dulunya hanya bertani sekarang ia berternak dan juga menjadi tukang kayu.
F. STRUKTUR SOSIAL DAN KOMPOSISI PENDUDUK
Struktur sosial desa Tempaling memiliki sifat luwes. Masyarakat berbaur antar golongan dan saling melengkapi sebagaimana mestinya. Pemerintah desa mengatur dan memberi kebijakan dan warga melaksakan. Dalam era globalisasi sekarang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat desa. Warga harus terbiasa dengan modernisasi yang terjadi. Modernisasi membuat masyarakat menjadi lebih terbuka dan tidak mau lagi terkait dengan struktur sosial yang ketat dan tradisional. Membatasi kewenangan tradisional dan mendorong individunya ke arah yang lebih maju dan kompetitif.